Rabu, 02 Januari 2013

Makalah Ekonomi : Kurva IS dan Kurva LM


KURVA IS DAN KURVA LM

Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengantar Ilmu Ekonomi





Di susun oleh:

Kelompok 4
Roni Fardiansyah             121660134
Dadan Diki                        121660142                           
Imas Alawiyah                  121660165        
Lina Herlinayati                121660165                  
Rika Dwi Ecaesar             121660190        
Rini Nuraeni                      121660191
Kokom Komariah             101660228        

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP PGRI KOTA SUKABUMI)
TAHUN 2012

KATA PENGANTAR
            Alhamdulilah dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan.  Makalah ini berisikan tentang Penjelasan dan penggunaan Kurva IS dan Kurva LM yang di dalamnya di bahas mengenai: persoalan Permintaan Total dan Penawaran Total, ketercapaian pendapat keseimbangan, suku bunga dan investasi, Kurva IS, keseimbangan sector moneter, Kurva LM, Hubungan antara slope permintaan akan uang dan slope kurva LM, keseimbangan secara menyeluruh, pergeseran kurva IS dan LM, kurva Phillips, Stagflasi, dan fiscal.
Selanjutnya kami mengucapkan  terima kasih kepada Ibu Dra. Rosmala Dewi, M.M.PD selaku dosen mata kuliah Ilmu Pengantar Ekonomi yang telah memberi kesempatan dan kepercayaannya kepada kami untuk membuat dan menyelesaikan makalah ini. Sehingga kami memperoleh banyak ilmu, informasi dan pengetahuan selama kami membuat dan menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kepada seluruh rekan kami yang membantu penyelesaian makalah ini baik berupa bantuan moril maupun materil.      
Setelah itu kami berharap semoga makalah ini berguna bagi pembaca meskipun terdapat banyak kekurangsempurnaan di dalamnya. Akhir kata kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak pembaca maupun pengoreksi jika terdapat kesalahan dalam penulisan, penyusunan maupun kesalahan lain yang tidak berkenan di hati pembaca maupun pengoreksi, karena hingga saat ini kami masih dalam proses belajar. Oleh karena itu kami  memohon kritik dan sarannya demi kemajauan bersama.
Sukabumi,      November 2012
Penyusun
a.n. kelompok 4

Roni Fardiansyah, S.Pd.I




DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………………… 1
Daftar isi ………………………………………………………………………………… 2
BAB I PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang Masalah …………………………………………………. 3
b.    Maksud dan Tujuan ………………………………………………………. 5
BAB II PEMBAHASAN
a.    Permintaan Total (Aggregate Demand) dan Penawaran Total
(Aggregate Supply) ……………………………………………………….. 6
b.    Pendapatan Keseimbangan (Equilibrum Income)……………………… 7
c.    Pengertian suku bunga …………………………………………………… 8
d.    Pengertian investasi ………………………………………………………. 10
e.    Persoalan Suku Bunga dan Investasi …………………………………… 11
f.     Pengertian Kurve IS dan Kurve LM ……………………………………… 13
g.    Kurva IS ……………………………………………………………………. 14
h.    Keseimbangan sector moneter ………………………………………….. 15
i.      Kurva LM …………………………………………………………………… 17
j.      Hubungan permintaan uang dan kurve LM …………………………….. 19
k.    Rangkuman Kurve IS dan Kurve LM ……………………………………. 19
l.      Keseimbangan secara menyeluruh (overall Equilibrum) ……………… 20
m.   Pergeseran pada kurve IS ………………………………………………… 21
n.    Pergeseran pada kurve LM ……………………………………………….. 22
o.    Kurve Philips ……………………………………………………………….. 23
p.    Pengertian stagflasi kebijaksanaan-kebijaksanaan alternative……….. 24
q.    Fiskal dan Moneter ………………………………………………………… 32
BAB III PENUTUP
a.    Kesimpulan …………………………………………………………………. 34
b.    Saran-saran ………………………………………………………………… 35
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang Masalah

Kegiatan konsumsi pada pokoknya dideterminasi (ditetapkan) oleh pendapatan. Ketika pendapatan bertambah maka konsumsi akan ikut bertambah sehingga Permintaan Total (Aggregate Demand) dapat diperoleh. Sedangkan penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit. 

Gambaran tentang permintaan total dan penawaran total berdampak terhadap keseimbangan, baik itu penggambaran kurva IS, LM, Phillips dan lainnya.

Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas. Ia mempengaruhi secara langsung kehidupan masyarakat keseharian dan mempunya dampak penting terhadap kesehatan perekonomian.Ia mempengaruhi keputusan seseorang atau rumah tangga dalam mengkonsumsi, membeli rumah, membeli obligasi, atau menaruhnya dalam rekening tabungan. Suku bunga juga mempengaruhi keputusan ekonomis bagi pengusaha atau pimpinan perusahaan apakah akan melakukan investasi pada proyek baru atau perluasan kapasitas.

Jadi dapat kita ketahui bersama ketika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan uang mereka di bank karena ia akan mendapat bunga yang tinggi. Sebaliknya jika suku bunga rendah masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank dan akan menarik dana mereka yang ada di bank. Dalam hal ini ternyata tingkat suku bunga sangat mempunyai pengaruh penting terhadap minat masyarakat terhadap dunia perbankan. Hal ini berpengaruh juga terhadap investasi yang akan ditanamkan pada sebuah sector usaha.



b.    Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.    Permintaan Total (Aggregate Demand) dan Penawaran Total (Aggregate Supply)
2.    Pendapatan Keseimbangan (Equilibrum Income)
3.    Pengertian suku bunga
4.    Pengertian investasi
5.    Pengertian Kurve IS dan Kurve LM
6.    Keseimbangan sector moneter
7.    Hubungan permintaan uang dan kurve LM
8.    Rangkuman Kurve IS dan Kurve LM
9.    Keseimbangan secara menyeluruh (overall Equilibrum)
10. Pergeseran pada kurve IS
11. Pergeseran pada kurve LM
12. Kurve Philips
13. Pengertian stagflasi kebijaksanaan-kebijaksanaan alternative
14. Inflasi
15. Fiscal













BAB II
PEMBAHASAN
a.    Permintaan Total (Aggregate Demand) dan Penawaran Total
(Aggregate Supply)

Menurut para ahli, Pengertian permintaan adalah jumlah barang/jasa yang diinginkan dan mampu dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga dalma jangka waktu tertentu dengan menganggap factor yang mempengaruhinya konstan/tetap (ceteris paribus).

Sedangkan Permintaan Total (Aggregate Demand) lebih ditekannya unsure kepentingannya menurut Keynes dalam rangka menggerakkan perekonomian. Dalam konteks model yang sederhana, Permintaan Total (Aggregate Demand) di asumsikan terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1.    Pengeluaran oleh konsumen ( C)
2.    Pengeluaran untuk investasi  ( I )
3.    Pengeluaran oleh pemerintah ( G )
Selanjutnya John Maynard Keynes berpendapat bahwa kegiatan konsumsi pada pokoknya dideterminasi (ditetapkan) oleh pendapatan. Ketika pendapatan bertambah maka konsumsi akan ikut bertambah. Untuk memperoleh Permintaan Total (Aggregate Demand) maka perlu adanya penyatuan ketiga komponen di atas berupa gambar berikut :
                                               
Sedangkan Penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit.  Atau Menurut JM Keynes atau model Keynesian Penawaran Total dapat dianggap sebagai hal yang menunjukkan berbagai macam tingkat out put yang tersedia dan diproduksi oleh sector usaha.
b.    Pendapatan Keseimbangan (Equilibrum Income)

Contoh pencapaian pendapatan keseimbangan dapat digambarkan paada gambar di bawah ini :


Sector dunia usaha tidak dapat mengantisipasi tingkat pengeluaran (yang diinginkan ) konsumen, investor dan pemerintah seperti yang diperlihatkan dalam permintaan total. Jika dunia usaha memperkirakan bahwa permintaan total lebih besar daripada kenyataannya, maka produksi jumlah barang dan jasa akan lebih banyak meskipun tidak terjual sepenuhnya.

Situasi demikian dalam gambar dapat kita tunjukkan oleh tingkat pendapatan (tingkat out put) perekonomian yang bersangkutan sebesar 1800. Lihatlah bahwa dalam kasus ini pengeluaran yang diinginkan seperti direfleksi oleh garis permintaan total adalah 1750 pada tingkat output sebesar 1800.


Hasil situasi demikian yang tidak dapat dihindari adalah bahwa barang-barang dengan nilai 50 tidak laku terjual yang berarti bahwa persediaan barang-barang bertambah sebanyak 50. Dunia usaha yang menghadapi pertambahan dalam persediaan yang tidak dikehendaki pada tahun berikutnya mengurangi produksi, dan mereka terus mengikuti output atau NNP sampai mereka mencapai titik dimana mereka dapat menjual segala sesuatu yang diproduksi.

Titik tersebut dalam gambar kita adalah titik 1600. Hal yang sebaliknya terjadi, apabila NNP ternyata kurang dari titik perpotongan antara penawaran total dan permintaan total. Dalam keadaan demikian, orang-orang (termasuk pemerintah) ingin membeli barang-barang (dan jasa-jasa) dalam jumlah lebih banyak daripada jumlah yang sedang diproduksi.

Persediaan-persediaan tanpa sengaja berkurang dan dunia usaha mulai mmeperluas produksi yang selanjutnya menyebabkan bertambahnya NNP. Maka jelas kiranya bahwa hanya terdapat sebuah titik saja dimana jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang ingin dibeli orang-orang persis sama dengan jumlah yang yang diproduksi. Hal tersebut terjadi pada titik perpotongan antara garis-garis permintaan total dan penawaran total (titik E = Equilibrium).

NNP keseimbangan (Equilibrium NNP) dapat mengalami perubahan apabila terjadi pergeseran posisi pada garis permintaan total.

c.    Pengertian Suku Bunga
Para Ahli mengartikan Suku bunga sebagai berikut:
1.    Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
2.    Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :
a)    Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk  diinvestasikan.
b)    Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya, pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sector lain.
c)    Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.

Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu : penawaran tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis).
Tabungan adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. Bunga pada dasarnya berperan sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat bunga.
Semakin tinggi suku bunga, akan semakin tinggi pula minat masyarakat untukmenabung,dansebaliknya.
Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya suku bunga tabungan masyarakat.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 471) suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu.
3.    Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 99-100) suku bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu suku bunga nominal dan suku bunga riil. Dimana suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam. Sedang suku bunga riil lebih menekankan pada rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga riil adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998) suku bunga adalah pembayaran yang dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.
4.    Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat bunga dalam perekonomian yaitu alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian hari.
5.    Menurut Ramirez dan Khan (1999) ada dua jenis faktor yang menentukan nilai suku bunga, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang beredar, dan inflasi. Sedang faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga.
6.    Menurut Prasetiantono (2000) mengenai suku bunga adalah : jika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank.
                 Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya suku bunga di Indonesia adalah tingginya suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi (perantara), kebiasaan masyarakat untuk bergaul dan memanfaatkan berbagai jasa bank secara relatif masih belum cukup tinggi, dan sulit untuk menurunkan suku bunga perbankan bila laju inflasi selau tinggi ( Prasetiantono, 2000 : 99-101).

d.    Pengertian Investasi

1.    Menurut Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, investasi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh para penanam modal yang menyangkut penggunaan sumber-sumber seperti peralatan, gedung, peralatan produksi dan mesin-mesin baru lainnya atau persediaan yang diharapkan akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut.

2.  Komarudin (1983) memberikan pengertian investasi yaitu:
a. Suatu tindakan membeli barang-barang modal.
b. Pemanfaatan dana yang tersedia untuk produksi dengan pendapatan dimasa  yang akan datang.
c. Suatu tindakan untuk membeli saham, obligasi atau surat penyertaan lainnya.

Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif, maka output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang juga akan meningkat. Jelas dengan demikian bahwa investasi memainkan peranan penting dalam menentukan jumlah output dan pendapatan.

Kekuatan ekonomi utama yang menentukan investasi adalah hasil biaya investasi yang ditentukan oleh kebijakan tingkat bunga dan pajak, serta harapan mengenai masa depan (Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, 1993, 183). Faktor penentu investasi sangat tergantung pada situasi di masa depan yang sulit untuk diramalkan, maka investasi merupakan komponen yang paling mudah berubah. Usaha untuk mencatat nilai penanaman modal dilakukan dalam satu tahun tertentu yang digolongkan sebagai investasi, meliputi pengeluaran atau pembelanjaan untuk:
a. Seluruh pembelian para pengusaha atas barang modal dan membelanjakan untuk mendirikan industri-industri.
b. Pengeluaran masyarakat untuk mendirikan tempat tinggal.
c. pertambahan dalam nilai stok barang-barang perusahaan yang berupa bahan mentah, barang yang belum diproses dan barang jadi.

3.    Adam smith menyatakan bahwa investasi dilakukan karena para pemilik modal mengharapkan untung dan harapan masa depan keuntungan bergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Pada waktu laju pemupukan modal meningkat, persaingan yang meningkat antar pemilik modal akan menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan.

4.    Menurut Harrod-Domar pengeluaran investasi (I) tidak hanya mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat (Z), tetapi juga terhadap penawaran agregat (S) melalui pengauhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam prespektif waktu yang lebih panjang ini. I menambah stok kapital (misalnya, pabrik-pabrik, jalan-jalan dan sebagainya). Jadi I=  K, dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Ini berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat dan selanjutnya berarti bergesernya kurva S ke kanan.

e.    Persoalan suku bunga dan investasi

Suku bunga merupakan sebuah factor penting yang mendeterminasi (menetapkan) tingkat (laju) investasi. Apabila suku bunga meningkat, maka dapat diperkirakan tingkat investasi akan menurun dan hal ini kurang menguntungkan untuk melakukan investasi. Di samping itu, apabila kredit makin sulit diperoleh, situasi selanjutnya biasanya diikuti oleh meningkatnya suku bunga, maka investasi cenderung berkurang. Hal sebaliknya berlaku, jika suku bunga menurun atau kredit lebih mudah diperoleh.
Dengan sendirinya, setiap perubahan dalam suku bunga yang mengubah komponen investasi dalam permintaan total sebaliknya juga akan mengubah tingkat permintaan total.

     Jadi, suatu kenaikan dalam suku bunga cenderung menggeser garis permintaan total ke bawah dan mengurangi NNP keseimbangan. Sebaliknya, suku bunga lebih rendah berhubungan dengan garis permintaan total lebih tinggi dan tingkat NNP keseimbangan lebih tinggi pula.
Perhatikan gambar berikut ini:

Para ahli ekonomi menyatakan bahwa terdapat adanya hubungan terbalik antara suku bunga dan investasi. Dalam hal menggambarkan hubungan demikian, kita mencapai garis yang menyusur ke bawah.

Pada tingkat bunga yang relative tinggi i2 tingkat investasi neto pertahun sama dengan I0. Tetapi pada suku bunga yang lebih rendah misalnya pada tingkat i1, investasi bertambah hingga I1 dan pada suku bunga yang lebih rendah lagi i0, investasi bertambah hingga I2. Jadi, apabila kita memperhatikan uraian yang dikemukakan, maka jelaslah kiranya bahwa suku bunga besar pengaruhnya atas tingkat NNP keseimbangan.

Rantai sebab akibat dapat dirangkumkan sebagai berikut :


 



Gambar berikut menunjukkan : hubungan antara suku bunga dan permintaan total (lihat gambar XV.4)

Pada gambar di bawah, terlihat tiga buah garis permintaan total yang berhubungan dengan ketiga macam tingkat suku bunga serta investasi yang diperlihatkan pada gambar sebelumnya. Terlihat dalam gambar bahwa permintaan total tertekan pada tingkat rendah karena tingkat bunga yang tinggi dank arena investasi relative sedikit. Sewaktu suku bunga menurun, investasi  bertambah dan begitu pula halnya dengan permintaan total. Di samping itu, pergeseran ke atas pada permintaan total menyebabkan dicapainya tingkat NNP keseimbangan yang lebih tinggi.

f.     Pengertian Kurve IS dan Kurva LM

     Kurva IS menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar barang dan jasa. Kurva IS juga menyatakan “investasi” dan “tabungan”. Kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk barang dan jasa. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kanan. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kiri.

     Hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar uang dinyatakan dengan Kurva LM. Kurva LM menggambarkan  hubungan di antara tingkat pendapatan dan tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat pendapatan semakin tinggi permintaan terhadap keseimbangan uang riil, dan semakin tinggi tingkat bunga keseimbangan. Karena itu, kurva LM miring ke atas.

g.    Kurva IS

Para ahli ekonomi telah berusaha untuk merangkum hubungan antara suku bunga dan NNP kesimbangan melalui sebuah garis seperti terlihat pada gambar berikut:

Kembali lagi pada kasus ini kita menjumpai suatu hubungan terbalik antara kedua buah variable. Pada tingkat-tingkat bunga tinggi, NNP keseimbangan adalah relative rendah, tetapi sewaktu suku bunga menurun dan kurva permintaan total bergeser ke atas, maka tingkat NNP keseimbangan bertambah.

Garis yang dilukiskan dalam gambar kita biasanya dinyatakan orang sebagai kurva IS. Namanya dicapai berdasarkan factor bahwa pada setiap tingkat NNP keseimbangan (perpotongan permintaan total dan penawaran total yang sesuai dengannya) tingkat tabungan yang diinginkan adalah sama dengan tingkat investasi yang diinginkan.

Kurva IS merupakan sebuah kurva yang menyusur ke bawah (terdapat hubungan terbalik antara suku bunga dan NNP keseimbangan).

Dalam pembahasan tentang kebijaksanaan fiscal dan moneter slope eksak kurva IS merupakan sebuah determinan penting bagi kebijaksanan pemerintah guna mengurangi kesempatan kerja atau inflasi.

Jadi, penting sekali untuk mengetahui apa yang mendeterminasi slope dari kurva IS. Artinya apakah sebabnya slope garis tersebut kadang-kadang curam, dan kadang-kadang mendatar? Sebuah factor penting yang mempengaruhi slope garis IS adalah slope daripada garis investasi.

Perhatikanlah gambar-gambar berikut:


Apabila garis investasi sangat curam (perhatikan gambar A). Maka kurva IS yang berhubungan dengannya juga akan berposisi sangat curam (gambar B).

Sebuah garis investasi yang sangat curam merefleksi ide bahwa investasi tidak begitu peka (responsive) terhadap perubahan-perubahan dalam suku bunga. Misalnya, menurunnya suku bunga dari i1 hingga i0 tidak banyak menambahkan investasi.

Hasilnya akan berupa pergeseran yang relative kecil pada garis permintaan total yang sebaliknya berarti bahwa NNP keseimbangan tidak akan banyak berubah.

Di lain pihak garis investasi yang relative datar menunjukkan bahwa investasi berubah dengan jumlah yang relative banyak apabila terjadi sesuatu perubahan dalam tingkat bunga. Perubahan besar tersebut dalam investasi menyebabkan terjadinya perubahan yang relative besar dalam permintaan total dan NNP.

h.    Keseimbangan pada sector moneter
Dalam hal mengkonstruksi kurva IS, telah ditunjukkan bahwa ada macam-macam tingkat keseimbangan NNP yang dapat dicapai dalam sector barang dan jasa perekonomian yang bersangkutan. Akan tetapi kita tidak tahu bagaimana mendeterminasi tingkat keseimbangan NNP mana akan berlaku pada saat tertentu. Hal tersebut hanya dapat dilakukan setelah kita mendeterminasi suku bunga keseimbangan.
Guna menedeterminasi suku bunga keseimbangan, perlu kita mempersoalkan permintaan akan uang dan penawaran uang. Perhatikanlah pertama-tama permintaan akan uang.

Permintaan akan uang dapat kita nyatakan sebagai : Jumlah uang yang ingin dipegang orang pada macam-macam suku bunga.  (suku bunga yang dimaksud di sini adalah suku bunga yang diperoleh dari surat-surat perniagaan berharga yakni dari saham-saham dan obligasi).

Suku-suku bunga tersebut merupakan biaya untuk menahan uang karena apabila orang menyimpan uang sebagai kebalikan daripada menyimpan surat-surat efek, orang mengkorbankan pendapatan (bunga) yang dapat dicapai dari efek tersebut. Makin tinggi suku bunga efek makin besar pendapatan (bunga) yang harus dikorbankan dan makin besarlkah biaya untuk menyimpan uang.
Hubungan antara suku bunga atas efek dan jumlah uang yang ingin disimpan orang ditunjukkan oleh kurva permintaan uang.












Dalam kasus kurva permintaan uang, pendapatan dianggap sebagai sebuah factor penting yang dapat menggeserkan posisi kurva permintaan. Pada umumnya dapat kita katakana bahwa apabila pendapatan berupa uang bertambah, orang-orang cenderung memegang uang lebih banyak.

NNP0 yang tercantum pada kurva permintaan akan uang kita, dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwakurva tersebut digambarkan untuk tingkat tertentu NNP. Bila NNP bertambah, maka kurva permintaan akan uang tersebut bergeser ke kanan. Gambar berikut menunjukkan keseimbangan pada sector moneter:

Suku bungan merupakan mekanisme untuk menyeimbangkan permintaan akan uang dengan penawaran uang. Hal yang selanjutnya perlu kita perhatikan adalah : Pergeseran kurva permintaan akan uang yang disebabkan karena adanya sesuatu perubahan dalam pendapatan atau NNP. Hal tersebut membawa kita pada definisi kurva LM.

i.      Kurva LM
Dalam kasus ini kita akan memilih berbagai macam tingkat NNP keseimbangan guna mencapau sesuatu. Seri tingkat keseimbangan suku bunga seperti yang dideterminasi pada sector moneter perekonomian yang bersangkutan. Dalam rangka usaha mengkonstruksi hubungan tersebut akan kita asumsikan adanya penawaran uang yang konstan (yang tidak dapat bergeser posisi).
Perhatikanlah gambar di bawah ini:






           


Pada tingkat NNP yang relative rendah seperti misalnya NNP0 : permintaan akan uang sedikit seperti ditunjukkan oleh D0 dan akibatnya adalah suku bunga keseimbangan akan rendah. Apabila kita memilih tingkat –tingkat NNP lebih tinggi yang ditunjukkan oleh NNP1 dan NNP2 maka permintaan akan uang bertambah dari D1 dan D2 dan suku bunga yang timbul oleh karenanya masing-masing meningkat hingga i1 dan i2. Apabila kita mencantumkan tingkat bunga keseimbangan pada sumbu vertical yang berhadapan dengan tingkat-tingkat NNP yang berhubungan dengannya maka kita memperoleh sebuah garisyang menysusur ke atas seperti ditinjukkan pada gambar B. garis ini biasanya dinamakan Kurva LM. Istilah tersebut digunakan karena setiap titik pada kurva tersebut mewakili sebuah keseimbangan antara permintaan akan uang (kadang-kadang dinamakan kurva : preferensi likuiditas atau disingkat L) dan jumlah uang (disingkat M).
Halk yang perlu kita ketahui mengenai kurva LM adalah :
Kurva LM menunjukkan sejumlah tingkat-tingkat bunga keseimbangan untuk banyak tingkat NNP keseimbangan.sifat menyusur ke atas (upward sloping) garis LM mencerminkan pandangan bahwa tingkat-tingkat NNP yang lebih tinggi menyebabkan timbulnya suku bunga lebih tinggi dengan asumsi bahwa persediaan uang adalah konstan.
Kurva LM  sifatnya menyusur ke atas. Slope dari kurva LM sangat tergantung pada slope kurva permintaan akan uang. Slope permintaan akan uang mencerminkan berapa banyak orang mengubah jumlah uang yang dingin mereka pegang sebagai reaksi terhadap sesuatu perubahan dalam suku bunga. Apabila kurva permintaan akan uang berposisi curam maka sesuatu perubahan dalam suku bunga tidak akan banyak menimbulkan perubahan pada sumbu horiziontal.
Hal tersebut berarti bahwa orang-orang tidak banyak mengubah jumlah uang yang ingin mereka pegang. Sebaliknya, sebuahkurva permintaan akan uang yang mendatar berarti bahwa sesuatu perubahan dalam suku bunga mengakibatkan sesuatu perubahan yang relative besar dalam jumlah uang yang dipegang untuk tingkat NNP tertentu.





j.      Hubungan Slope permintaan akan uang dan slope kurva LM

k.     Rangkuman tentang kurva IS dan Kurva LM

     Kurve IS dicapai dengan jalan memilih suku bunga alternatef dan kemudian diobservasi apa yang terjadi pada NNP keseimbangan. Ternyata bahwa dengan suku bunga lebih rendah, investasi bertambah yang menyebabkan NNP keseimbangan menjadi lebih tinggi.
     Hubungan antara suku bunga dan tingkat keseimbangan NNP yang timbul olehnya dirangkumkan oleh Kurve IS. Kurve IS menyusur ke bawah disebabkan oleh karena suku bunga lebih rendah berkaitan dengan tingkat-tingkat NNP keseimbangan-keseimbangan yang lebih tinggi. Slope daripada Kurve IS tergantung pula dari pada reaksi investasi atas perubahan-perubahan dalam  suku bunga.

     Kurve LM dicapai dengan jalan memilih tingkat-tingkat NNP alternative dan kemudian diobservasi apa yang terjadi atas suku bunga keseimbangan di dalam perekonomian yang bersangkutan. Pada tingkat-tingkat NNP lebih tinggi, permintaan akan uang bertambah yang mengakibatkan menjadi lebih tinggi.

Hubungan antara tingkat NNP dan suku bunga dirangkumkan oleh kurve LM.

     Kurve LM menyusur ke atas oleh karena tingkat-tingkat NNP lebih tinggi menyebabkan suku bunga keseimbangan menjadi lebih tinggi, ingat pula bahwa slope dari Kurve LM tergantung pada reaksi permintaan akan uang terhadap perubahan dalam suku bunga.


l.      Keseimbangan secara menyeluruh (Overall Equilibrium)
Perhatikan gambar berikut :

Kita mengetahui bahwa terdapat bnyak tingkat NNP keseimbangan seperti halnya Ditunjukan oleh kurve IS dan ada pula banyak tingkat suku bunga seperti halnya ditunjukan oleh kurve LM. Masalah yang di hadapi adalah mana diantara banyak NNp keseimbangan yang ada dan tingkat -tingkat bunga sebenarnya akan berlaku. Hanya satu saja diantara sekian banyak NNp keseimbangan dan tingkat – tingkat bunga yang menimbulkan suatu keseimbangan secara menyeluruh.

            Mungkin , cara terbaik untuk mengerti pengertian “Overall Equilibrium” adalah mencari dengan sengaja, sesuatu situasi yang tidak menunjukan “Overall Equilibrium” dan kemudian diperhatikan apa yang akan terjadi.

            Katakanlah bahwa NNP tersebut yang terlihat pada kurve IS adalah sebesar $ 800 biljun. Tetapi, apabilannp hanya sebesar $ 800 biljun maka tingkat bunga keseimbangan pada sektor moneter adalah sebesar 6% (lihat kurve LM). Dengan perkataan lain apabila tingkat NNP adalah sebesar $ 800 biljun makapermintaan akan uang dan penawaran uangmenyebabkan terbentuknya tingkat bunga keseimbangan setinggi 6% maka dengan demikian terlihat bahwa pada tingkat bunga sebenarnya setinggi 12 persen jumlah uang yang di tawarkan  melebihi  jumlah uang yang  di minta. Akibatnya adalah orang -  orang akan mencoba meniadakan “uang lebih” melalui usaha membeli surat surat efek.

            Sewaktu harga efek meningkat, maka tingkat bunga menurun . Pada waktu suku bunga mulai menurun, maka tingkat invrstasi meningkat dan menyebabkan NNP keseimbangan meningkat pada pasar barang” dan jasa -jasa.

            NNP masih terlampau sedikit untuk menimbulkan tingkat bunga sebesar 10% pada pasar uang . Maka suku bunga masih agak menurun. Ia terus-menerus turun, sampai NNP keseimbangan dalam model kita bertambah cukup banyak hingga menyebabkan permintaan akan uang bertambah sampai tingkat bunga keseimbangan pada pasar uang persis sama dengan tingkat bunga yang menentukan NNP keseimbangan.
Dalam contoh kita, tingkat yang di maksudkan adalah 8%.

m.          Pergeseran pada kurva IS

Perlu kita ingat kembal I pada kurve IS di capai dari diagram permintaan total – penawaran total – sewaktu suku bunga menurun, investasi bertambah dan permintaan total meningkat yang menyebabkan NNP keseimbangan mencapai tingkat yang lebih tinggi.

            Sesuatu pergeseran (shift) pada kurve IS akan terjadi,apabila terdapat suatu pergeseran pada salah satu (atau lebih) di antara 3 komponen permintaan total (yakni konsumsi,  investasi , dan pengeluaran Pemerintah) yang tidak berhubungan dengan perubahan dalam suku bunga.
Perhatikan gambar berikut :


Menggambarkan ! efek suatu pertambahan dalam pendapatan total pada kurve IS

            Dalam gambar, pengeluaran Pemerintah bertambah hal mana menyebabkan permintaan total pergeseran ke atas yang mengakibatkan NNP keseimbangan meningkat dari NNP 0 ke NNP1.

Bagaimanakah pergeseran dalam permintaan total tersebut mempengaruhi kurve IS ? Ingatkah bahwa suku bunga di pegang konstan pada tingkat i0.

            Pada suku bunga I 0, tingkat NNP pada diagram kurve IS harus meningkat dari NNP 0 ke NNP 1 maka oleh karenanya dapat kita menarik kesimpulan bahwa kurve IS baru,harus berada pada bagian kanan kurve IS yang semula. 


n.    Pergeseran pada kurva LM
Kurva LM akan bergeser bila permintaan dan atau penawaran uang berubah.












Jika ada penambahan jumlah uang beredar dan permintaan uang bertambah maka kurva LM akan bergeser ke kanan (dari L Moke LM1). Begitu pula sebaliknya jika jumlah uang beredar dan permintaan uang berkurang maka kurva LM akan bergeser ke kiri.
 Pada tingkat-tingkat  NNP lebih tinggi permintaan uang bertambah besar, dan akibatnya adalah tingkat bunga keseimbangan meningkat sewaktu NNP bertambah (dengan mengamsumsi bahwa persediaan uang adalah “Fixed”).
Kurva LM Menunjukan hubungan antara berbagai tingkat NNP dan tingkat-tingkat suku bunga keseimbangan yang berhubungan denganya.

o.    Kurva Phillips
A.W PHILLIPS  seorang ekonom  yang berasal dari London, melakukan pengamatan pada kondisi perekonomian di inggris terutama mengenai upah pekerja dan tingkat pengangguran di inggris antara tahun, berdasarkan pengamatan tersebut, Phillips menemukan kenyataan bahwa perubahan tingkat upah akan berbanding terbalik dengan perubahan tingkat pengangguran. Semakin tinggi upah maka pengangguran akan menjadi semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah upah maka pengangguran juga akan semakin bertambah.

Pada tahun-tahun belakangan ini pembahasan telah berpusat pada hubungan antara pengangguran dan inflasi. Dengan jalan menghadapkan tingkat pengangguran tahunan rata-rata setiap tahun dengan laju inflansi tahunan, tahun yang bersangkutan maka akan kita peroleh sebuah kurve lengkung yang menyusur kebawah yang dikenal orang sebagai kurve dari PHILLIPS (The PHILLIPS Curve).
Perhatikan gambar berikut ini:

Keterangan :

Marilah kita mulai dengan sebuah titik (a) pada kurva jangka pendek Co. Apabila laju inflasi secara tak terduga-duga meningkat dari  4 hingga 6% , maka pengangguran berkurang dari 4,5 menjadi 3,5%, titik b pada akurve jangka pendek Co. Tetapi apabila orang-orang menduga bahwa akan terjadi laju inflasi 6% pada masa yang akan datang, maka kurve Phillips jangka pendekakan bergeser posisi ke C1.

Kurve-kurve jangka pendek yang progresif lebih tinggi berhubungan dengan laju inflasi yang diperkirakan lebih tinggi secara progresif.Andai kata laju inflasi berlangsung dengan 6% per tahun, maka tingkat pengangguran akan kembali pada tingkat 4,5% sewaktu upah berupa uang menyusul kenaikan dalam harga-harga.

Andai kata sekonyong-konyong inflasi melaju hingga 8% per tahun, maka perekonomian yang bersangkutan akan bergeser ke atas melalui kurve C1 untuk kembali lagi mencapai suatu tingkat pengangguran sebesar 3,5% (titik d)
    
Tetapi, kembali lagi harapan-harapan berubah dan upah berupa uang menyusul dan tingkat pengangguran meningkat hingga 4,5% (titik e) . Maka perekonomian yang bersangkutan makin lama makin “didongkrak” hingga tingkat laju inflasi yang makin tinggi tanpa terjadinya pengurangan secara mantap dalam jumlah pengangguran.

Pada kurva Phillips bukan Tradeoff yang sudah tetap, saat tingkat inersia dan inflasi berubah, kurva Phillips juga berubah.Edmund Phelps dan Milton Friedman kemudian melakukan modifikasi pada teori kurva Phillips dan menemukan bahwa kurva Phillips hanya menggambarkan situasi jangka pendek.Pada kondisi jangka panjang, terdapat tingkat pengangguran minimum pada inflasi yang tetap. Hal ini disebut sebagai tingkat pengangguran wajar terendah(lowest sustainable unemployment rate/LSUR) beberapa pakar ekonomi menyebutkan sebagai tingkat pengangguran alami

LSUR  adalah suatu tingkat dimana naik turunya harga dan inflasi upah pada titik setimbang. Pada LSUR, inflasi stabil, tanpa adanya tendensi yang menunjukan peningkatan atau penurunan LSUR merupakan tingkatan terendah yang dapat terjadi dalam jangka panjang tanpa adanya kenaikan pada inflasi.

p.    Stagflasi kebijaksanaan-kebijaksanaan alternative dan saran-saran

1.    Pengantar
Sejak tahun tujuh puluhan, banyak ahli-ahli ekonomi dan pemimpin-pemimpin politik telah menemukan hal-hal mencemaskan pada perekonomian Amerika Serikat.

Diantara hal-hal tersebut dapat dikemukakan:
-          Upaya untuk memperketat kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan fiskal untuk mengurangi inflasi dapat menyebabkan meningkatnya pengangguran tanpa diakhirinya inflasi.
-          Upaya untuk memperlunak kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan fiskal guna memperbesar kesempatan kerja dapat menyebabkan timbulnya inflasi (dipercepatnya inflasi) tanpa meningkatnya kesempatan kerja.
2.    Pengertian stagflasi.
Stagflasi merupakan kombinasi antara dua istilah yaitu “Stagnasi” dan “ Inflasi”. Stagflasi sendiri memiliki pengertian suatu kondisi suatu perekonomian mengalami inflasi dan stagnasi dalam waktu yang bersamaan.
Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama terus-menerus. Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di mana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup lama.
Stagnasi adalah suatu keadaan di mana tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sekitar 0% per tahun.

3.    Kurve-kurve Philips
Banyak ahli ekonomi berpendapat bahwa oleh karena inflasi dan pengangguran dapat timbul pada saat yang bersamaan, maka kiranya ada hubungan antara kedua hal tersebut.
Andaikan hal tersebut benar, maka hubungan demikian dapat dinyatakan dengan bantuan sebuah kurve philips. Ide tersebut berasal dari seorang ekonomi Inggris yang bernama A. W. Philips
Hubungan yang dimaksud ditunjukkan pada gambar-gambar berikut.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa andai kata benar-benar ada sebuah kurva philips, maka hanya ada satu kurva demikian bagi sesuatu perekonomian pada waktu tertentu.

Keterangan gambar ( a ) terlihat sebuah kurva konvensional.
Pada setiap kurve, dapat dicapai penurunan dalam tingkat pengangguran melalui kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan fiskal yang bersifat ekspansioner. Hal  tersebut menyebabkan permintaan total (agregate demand) meningkat, akibatnya adalah bahwa lebih banyak kesempatan kerja terbentuk tetapi laju inflansi turut pula meingkat. Tipe kurve philips “ tradisional “ ini pada umumnya ditolak karena baik pengangguran maupun laju inflansi kerapkali meningkat secara simultan.
           









Keterangan: Kurve L yang dimodivikasi
Pada bagian kiri bawah kurve tersebut ( maksudnya: segmen “ trade-of” ) suatu penurunan dalam tingkat pengangguran dapat dicapai tetapi dengan pengorbanan berupa meningkatnya laju inflasi.
Akan tetapi, pada tingkat pengangguran kritikal tertentu yang dinamakan tingkat pengangguran alamiah  ( The Natural Unemployment Rate ) kurve Philips menjadi Vertikal.
Dalam kondisi demikian, ekspansi fiskal – moeter lebih lanjut hanya akan menyebabkan laju inflasi meningkat, tanpa terjadi penurunan dalam tingkat pengangguran.
Catatan :
Tingkat pengangguran alamiah dewasa ini berkisar sekitar 5 dan 6%.
Kurve Konvensioal
Gambar ( a ) menunjukan sebuah kurve Philips konvensional, yaitu sebuah tipe yang dianggap berlaku beberapa dekade yang lampau.
Masing-masing titik pada kurve tertentu, seperti misalnya kurve 1, menunjukan suatu kombinasi spesifik berupa pengangguran dan inflasi .
Titik yang diberi tanda “A” misalnya berkaitan dengan tingkat pengangguran sebesar 4% dan laju inflasi sebesar 5%. Apakah kiranya akan terjadi, apabila timbul sebuah pengangguran dari kurve 1 ke kurve ?
Perhatikan misalnya titik B pada kurve no. 2. Titik tersebut menunjukkan 4% pengangguran seperti pada titik A, tetapi laju inflasi disana lebih tinggi, yakni 9%.
Titik C menunjukkan laju inflasi yang sama ( 5% ) seperti pada titik A, tetapi disini tingkat pengangguran = 7%.
Setiap titik pada kurve no. 2 antara titik B dan titik C menunjukkan tingkat pengangguran dan laju inflasi lebih tinggi dibandingkan dengan titik A pada kurve no. 1.
Kesimpulan sementara :
Kurve-kurve yang letaknya lebih rendah, lebih baik dibandingkan dengan kurve-kurve yang letaknya lebih tinggi bagi perekonomia yang bersangkutan.

Perhatikan selanjutnya pernyataan berikut :
Sebuah kurve philips menunjukan sesuatu Trade-off antara pengangguran dan inflasi. Setiap titik pada kurve tersebut menunjukkan kombinasi pengangguran dan inflasi yang berbeda-beda.
Suatu gerakan ( ingat istilah : Shift along the Curve ) menunjukkan suatu pengangguran pada salah satu variabel yang telah disebut dan suatu pertambahan pada variabel yang kedua.
Apabila kurve philips konvensional benar-benar ada, maka ia dapat memberikan suatu menu pilihan antara pengangguran dan inflasi bagi para pembuat kebijaksanaan ( Policy Makers ) apabila variabel yang satu bertambah, maka variabel kedua akan berkurang.
Pokok persoalan disini adalah :
Pilihan kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan fiskal yang diperlukan guna mencapai imbalan yang diperlukan.
Kurve “L” yang dimodifikasi : Tingkat pengangguran alamiah
Muncul dugaan bahwa kurve baru memiliki bentuk yang menyerupai sebuah huruf “L”. Kurve philips yang dimodifikasi yang berbentu huruf “L” menunjukkan adanya “Trade-Off” terbatas antara pengangguran dan inflasi.
Pada segmen kanan bawah kurve tersebut pengeluaran negara yang meningkat melalui kebijaksanaan fiskal dan moneter akan menyegarkan meningkatnya permintaan total ( Aggregate Demand ) dan akibatnya adalah bahwa laju inflasi turut meningkat.
 minimal yang tidak mungkin diubah!
Ia dapat diturunkan dengan jalan :
·         Memperbaiki pasar tenaga kerja;
·         Melalui “ job-Training” ;
Meniadakan diskriminasi dalam hal rekruting tenaga kerja dan sebagainya, tetapi bukanlah melalui :
Kebijaksanaan fiskal dan kebijaksanaan moneter yang bersifat Over Ekspansioner.   
Kurve-kurve akselerasi “ Jalur-jalur”  Jangka pendek – Sebuah Pandangan Moneteris.
Kebanyakan moneteris beranggapan bahwa kurva Philips merupakan sebuah garis vertikal pada tingkat pegangguran alamiah.
Garis ACE didalam gambar kita ( gambar a) merupakan sebuah contohkurve Philips yang vertika. Garis-garis terputus sepeti misalnya garis ABC merupakan garis-garis akselerasi.
Merka menunjukkan jalur pengangguran – inflasi ( yang ditunjukkan oleh tanda-tanda panah )yang mungkin diikuti oleh perekonomian yang bersangkutan sebagai reaksi atas stimulasi Fiskal-Moneter.
Gambar a
Pertambahan dalam pengeluaran negara untuk sementara waktu dapat mengurangi pengangguran sewaktu perekonomian yang bersangkutan bergerak dari posisi keseimbangan inisialnya yang diasumsi pada titik A melalui jalur yang ada ke titk B.
Tetapi, sewaktu inflasi berakselerasi ketidakpastian makin menghebat.
Akibatnya adalah bahwa investasi dunia usaha berkurang, tingkat pengangguran meningkat, dan perekonomian yang bersangkutan bergerak ke keseimbangan baru pada titik C.
Stimulasi Fiskal – Moneter yang diperbaharui dapat mendorong perekonomian yang bersangkutan ke dalam sebuah siklus baru melalui jalur CDE.
Perhatikan pula pada setiap posisi keseimbangan baru ( titik C dan E ) menunjukkan tingkat pengangguran alamiah yang sama hal mana disertai laju inflasi yang makin tinggi.
Gambar b
Apabila perekonomian yang bersangkutan berada pada ttitik C maka ia dapat kembali ke titik A melalui jalur CFA. Hal tersebut akan terjadi, apabila pemerintah mengikuti stimulasi fiskal – moneternya hingga mengakibatkan permintaan total berkurang relatif dibandingkan dengan supply total.
Tingkat pengangguran akan meningkat sampai dicapai titik F, da kemudian ia menurun sewaktu laju inflasi terus menurun.

Ekspektasi – ekspektasi Rasional ( What you Foresee is what you get )
John Hicks, seorang pemenang hadiah Nobel mengetahui bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya berkaitan dengan upay : “ memprediksi prilaku manusia”
Maka oleh karenanya, apabila para penyusun kebijaksanaan negara berupaya untuk menstabilisasi perekonomian yang bersangkutan maka mereka harus memprediksi “ bagaimana orang-orang akan beraksi”.
Tetapi kiranya hal tersebut tidak mungkin dilakukan menurut sebuah teori yang kontroversial yang dinamakan” Teori tentang ekspektasi –ekspektasi Rasioal” ( Rational Expectatios).

Teori tersebut menyatakan bahwa orang-orang membentuk ekspektasi tentang kebijaksaaan fiskal  da kebijaksanaan  moneter pemerintah dan kemudian mereka memasukkan ekspetasi-ekspetasi tersebut kedalam keputusan – keputusan ekonomi mereka.
Mengatasi  “ Stagflation” melalui pasar.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa semua kebijaksanaan anti-stagflasi dapat di klasifikasikan dalam 2 kategori yaitu:
1.    Kebijaksanaan melalui pasar
2.    Kebijaksanaan tidak melalui pasar.
Penurunan Pajak : Kurve Laffer
Diagram kita yang dinamakan sebuah “ Laffer Curve” menunjukka suatu hubungan antara hasil pajak dan tingkat pajak ( The Tax Rate)
Hubunganya adalah demikia rupa, hingga apabila tingkat pajak meningkat dari 0 sampai 100% maka pendapatan negara dari pemajakkan akan meningkat dari nol samapi tingkat maksimum tertentu dan kemudian ia akan menyusul hingga nol
Tigkat pajak optimum yakni tingkat pajak yang menghasilkan pendapatan pajak terbesar akan berada diantara kedua ekstrim .Salah satu sifat penting kurve tersebut adalah bahwa ia mencakup sebuah bidang normal ( Normal Range ) da suatu bidang terlarang ( A Prohibitive Range ).


“The Wedge” dan tingkat pajak marjinal
Mereka yang pro penurunan pajak sebagai alat untuk mengatasi masalah stagflation beranggapa bahwa perekonomian yang bersangkutan sedang berada dalam bidang terlarang ( Prohibitive Range ).
Pengalaman beberapa dekade yang lampau menunjukkan bahwa pemerintah kiranya tidak akan mengurangi pengurangan untuk periode yang agak lama.
Maka oleh karenanya, penurunan pajak kiranya akan mempercepat laju inflasi daripada menguranginya.
Sehubungan dengan itu diperlukan sebuah program yang mencakup lebih banyak hal daripada penurunan pajak saja.
Sebuah langkah penting dalam rangka menstabilisasi perekonomian adalah:
·         Mengurangi pajak dan
·         Mengurangi pengeluaran negara.
Sesuatu penurunan pajak harus merupakan bagian dari sebuah program budgeter yang ditunjukkan untuk mengurangi defisit secara gradual dalam jangka waktu beberapa tahun.
Apabila hal tersebut tidak terlaksana maka muncul pemikira bahwa penurunan pajak itu pada hakekatnya berarti jamuan gratis tanpa kita perlu mengorbankan sesuatu.
Akibatnya berupa:
·         Kegagalan kebijaksanaan dan
·         Ketidakpuasan pada akhirnya.
Imbalan dan Hukuman : TIP
Dosis kuat pengeluaran negara yang diberikan oleh doktor-doktor Keynesian guna mengatasi resesi kiranya akan menyebabkan bahwa pasien yang bersangkutan menderita peyakit iflasi tinggi.
Pertambahan lambat, tetapi mantap yang dianjurka oleh para tabib monetaris dapat menyebabkan timbulnya  kasus kemacetan yang berlebihan dan tindakan drastis berupa operasi dalam bentuk pengendalian pemerintah secara ketat atas upah dan harga-harga diaggap kurang sesuai degan sistem demokratis.

Bagaimana cara kerja TIP
TIP didasarkan atas asumsi bahwa kenaikan harga sangat dipengaruhi oleh kenaikan upah. Maka oleh karenanya, dengan jalan membatasi keaikan upah dapat dikurangi tekanan ke atas  harga-harga.Guna mengimplementasi ide tersebut, TIP menetapkan suatu patokan tahunan untuk kenaikan upah.

q.    Fiskal dan Moneter

Pengantar
Dalam sejarah yang baru lampau ( di AS dan sejumlah negara lain) terlihat adanya dua cara pedekatan kebijaksanaan yakni kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan fiskal yang telah digunaka sebagai landasan untuk mengimplementasi tindaka-tindakan pemerintah yang ditujuka untuk mencapai sasaran
Efisiensi   konomi
Stabilitas
Pertumbuhan






















BAB III
PENUTUP
a.    Kesimpulan
Permintaan Total (Aggregate Demand) lebih ditekannya unsur kepentingannya menurut Keynes dalam rangka menggerakkan perekonomian. Dalam konteks model yang sederhana, Permintaan Total (Aggregate Demand) di asumsikan terdiri dari tiga komponen, yaitu: Pengeluaran oleh konsumen ( C), Pengeluaran untuk investasi  ( I ), Pengeluaran oleh pemerintah ( G ). Selanjutnya John Maynard Keynes berpendapat bahwa kegiatan konsumsi pada pokoknya dideterminasi (ditetapkan) oleh pendapatan. Ketika pendapatan bertambah maka konsumsi akan ikut bertambah.
Sedangkan Penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit.  Atau Menurut JM Keynes atau model Keynesian Penawaran Total dapat dianggap sebagai hal yang menunjukkan berbagai macam tingkat out put yang tersedia dan diproduksi oleh sector usaha.
Sector dunia usaha tidak dapat mengantisipasi tingkat pengeluaran (yang diinginkan ) konsumen, investor dan pemerintah seperti yang diperlihatkan dalam permintaan total. Jika dunia usaha memperkirakan bahwa permintaan total lebih besar daripada kenyataannya, maka produksi jumlah barang dan jasa akan lebih banyak meskipun tidak terjual sepenuhnya.

Persediaan-persediaan tanpa sengaja berkurang dan dunia usaha mulai mmeperluas produksi yang selanjutnya menyebabkan bertambahnya NNP. Maka jelas kiranya bahwa hanya terdapat sebuah titik saja dimana jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang ingin dibeli orang-orang persis sama dengan jumlah yang yang diproduksi. Hal tersebut terjadi pada titik perpotongan antara garis-garis permintaan total dan penawaran total (titik E = Equilibrium). NNP keseimbangan (Equilibrium NNP) dapat mengalami perubahan apabila terjadi pergeseran posisi pada garis permintaan total.

Suku bunga merupakan sebuah factor penting yang mendeterminasi (menetapkan) tingkat (laju) investasi. Apabila suku bunga meningkat, maka dapat diperkirakan tingkat investasi akan menurun dan hal ini kurang menguntungkan untuk melakukan investasi. Di samping itu, apabila kredit makin sulit diperoleh, situasi selanjutnya biasanya diikuti oleh meningkatnya suku bunga, maka investasi cenderung berkurang. Hal sebaliknya berlaku, jika suku bunga menurun atau kredit lebih mudah diperoleh.

Kurva IS menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar barang dan jasa. Kurva IS juga menyatakan “investasi” dan “tabungan”. Kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk barang dan jasa. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kanan. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kiri.

                        Hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar uang dinyatakan dengan Kurva LM. Kurva LM menggambarkan  hubungan di antara tingkat pendapatan dan tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat pendapatan semakin tinggi permintaan terhadap keseimbangan uang riil, dan semakin tinggi tingkat bunga keseimbangan. Karena itu, kurva LM miring ke atas.
Stagnasi adalah suatu keadaan di mana tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sekitar 0% per tahun.

b.    Saran-saran
Makalah yang kami buat masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami berharap pembaca terutama Ibu Dosen dapat memberikan kritik dan saran konstruktif kepada kami untuk perbaikan makalah agar lebih bagus lagi.








DAFTAR PUSTAKA
Winardi,Prof, SE, Pengantar Ilmu Ekonomi: Penerbit Tarsito, Bandung, 2000.
Nurul Huda, Keseimbangan  IS-LM Dengan  Pendekatan Ekonoomi Islam, 2007.
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/teori-suku-bunga.html.
http://ekonomikelasx.blogspot.com/2012/05/teori-inflasi.html.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar